AZIZAH DAULAY, MAHYA (2025) STUDI HADIS TENTANG TRADISI APIT KATUBAH DI KELURAHAN LONGAT KECAMATAN PANYABUNGAN BARAT KABUPATEN MANDAILING NATAL. Skripsi thesis, STAIN Mandailing Natal.

[thumbnail of SKRIPSI MAHYA AZIZAH DLY _21110001_IH_ COVER- BAB I.pdf] Text
SKRIPSI MAHYA AZIZAH DLY _21110001_IH_ COVER- BAB I.pdf - Published Version

Download (859kB)
[thumbnail of SKRIPSI MAHYA AZIZAH DLY _21110001_IH_ BAB II- BAB IV.pdf] Text
SKRIPSI MAHYA AZIZAH DLY _21110001_IH_ BAB II- BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (713kB) | Request a copy
[thumbnail of SKRIPSI MAHYA AZIZAH DLY _21110001_IH_ BAB V-DAFTAR PUSTAKA.pdf] Text
SKRIPSI MAHYA AZIZAH DLY _21110001_IH_ BAB V-DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (214kB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tradisi Apit Katubah yang berkembang di Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal. Tradisi ini adalah larangan melangsungkan pernikahan pada bulan Zulkaidah, yang diyakini masyarakat sebagai bulan terjepit di antara dua khutbah (khutbah Idulfitri dan khutbah Iduladha). Keyakinan tersebut menimbulkan
anggapan bahwa pernikahan yang dilakukan pada bulan ini akan membawa kesialan atau kesulitan dalam rumah tangga.Rumusan masalah dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana praktik tradisi Apit Katubah berlangsung di masyarakat serta bagaimana tinjauan hadis terhadap kepercayaan tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan
kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi, kemudian dianalisis dengan metode deskriptif-analitis dan pendekatan ilmu hadis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Longat masih mempercayai tradisi Apit Katubah sebagai bentuk ketaatan terhadap adat istiadat. Namun, dari perspektif hadis, tidak ditemukan dalil yang melarang pernikahan pada bulan Zulkaidah. Hadis Nabi saw yang menyebutkan "lā ʿadwā wa lā ṭiyarah wa lā hāmata wa lā ṣafar" menegaskan bahwa Islam menolak anggapan adanya hari sial atau bulan sial. Dengan demikian, tradisi Apit Katubah lebih didasarkan pada keyakinan adat dan budaya setempat, bukan pada ajaran agama. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa masih terjadi percampuran antara ajaran agama dan adat dalam praktik sosial masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan sosialisasi agar masyarakat lebih memahami ajaran Islam yang murni, sekaligus menjaga kelestarian adat yang tidak bertentangan dengan syariat

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Tradisi, Apit Katubah, Hadis, Pernikahan, Hari Sial
Subjects: Ilmu Hadits
Divisions: Ushuluddin, Adab, dan Dakwah > Program Studi Ilmu Hadits
Depositing User: Hanan Azhari Hasibuan
Date Deposited: 03 Jul 2026 03:21
Last Modified: 03 Jul 2026 03:21
URI: https://repository.stain-madina.ac.id/id/eprint/918

Actions (login required)

View Item
View Item