Parlindungan, Parlindungan (2026) KEPEMIMPINAN SEBAGAI AMANAH DALAM SURAT AL-NISĀ’/4: 58 (Studi Komparatif Terhadap Tafsir Al-Mishbah Dan Tafsir Fi Ẓilāl al-Qur’an). Skripsi thesis, STAIN MADINA.

[thumbnail of PARLINDUNGAN_22100014_IAT_ COVER- BAB I.pdf] Text
PARLINDUNGAN_22100014_IAT_ COVER- BAB I.pdf

Download (941kB)
[thumbnail of PARLINDUNGAN_22100014_IAT_ BAB II- BAB IV.pdf] Text
PARLINDUNGAN_22100014_IAT_ BAB II- BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (813kB) | Request a copy
[thumbnail of PARLINDUNGAN_22100014_IAT_ BAB V.pdf] Text
PARLINDUNGAN_22100014_IAT_ BAB V.pdf

Download (401kB)

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena krisis moral dan kepemimpinan di era modern, yang ditandai dengan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan akibat lemahnya pemahaman terhadap nilai amanah. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar status sosial melainkan amanah moral dan spiritual yang harus dipertanggungjawabkan. Fokus penelitian ini adalah mengkaji konsep kepemimpinan sebagai amanah dalam QS. al-Nisā’/4: 58 melalui studi komparatif antara pemikiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah dan Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Ẓilāl al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan penafsiran kedua tokoh tersebut serta menganalisis persamaan dan perbedaan pandangan mereka mengenai implementasi amanah kepemimpinan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan (library research). Sumber data primer dalam penelitian ini mencakup teks Al-Qur'an, Tafsir Al-Mishbah, dan Tafsir Fi Ẓilāl al-Qur’an, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari kitab hadis, buku, jurnal, dan karya ilmiah terkait lainnya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumenter, lalu dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan metode komparatif mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik M. Quraish Shihab maupun Sayyid Quthb sepakat bahwa kepemimpinan adalah amanah ilahiah yang menuntut integritas moral, kesadaran spiritual yang tinggi, penegakan keadilan universal, serta penolakan terhadap segala penyalahgunaan wewenang. Namun, terdapat perbedaan orientasi dan penekanan di antara keduanya. M. Quraish Shihab dengan corak sosial-kontekstualnya lebih menitikberatkan pada aspek etika personal, moralitas individu pemimpin, serta nilai-gunaan universal dalam masyarakat yang plural. Sebaliknya, Sayyid Quthb dengan corak ideologis-revolusioner lebih menekankan dimensi sistemik, kedaulatan hukum Allah, dan penerapan syariat Islam sebagai instrumen ideologis dalam kehidupan sosial-politik bernegara. Temuan penelitian ini mengonfirmasi relevansi nilai kepemimpinan Qur’ani sebagai landasan etis guna mengatasi krisis kepercayaan dan tata kelola kepemimpinan kontemporer.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: Ilmu Alquran dan Tafsir
Divisions: Ushuluddin, Adab, dan Dakwah > Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Parlin Parlindungan Lubis
Date Deposited: 30 Sep 2026 03:56
Last Modified: 30 Sep 2026 03:56
URI: https://repository.stain-madina.ac.id/id/eprint/1550

Actions (login required)

View Item
View Item