Sapani, Ahmad (2026) STUDI LIVING HADIS TENTANG TRADISI BATU KULHU PADA MALAM KETIGA UPACARA KEMATIAN DI DESA SITUAK BARAT KECAMATAN LEMBAH MELINTANG KABUPATEN PASAMAN BARAT. Skripsi thesis, STAIN MADINA.
AHMAD SAPANI_21110008_COVER-BAB I.pdf
Download (945kB)
AHMAD SAPANI_21110008_BAB II-IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (748kB)
AHMAD SAPANI_21110008_BAB V.pdf
Download (934kB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan tradisi pembacaan Batu Kulhu pada malam ketiga upacara kematian di Desa Situak Barat, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, serta menganalisis pemahaman dan pemaknaan masyarakat terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan Surah Al-Ikhlas dalam perspektif living hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat Desa Situak Barat yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pembacaan Batu Kulhu pada malam ketiga upacara kematian merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk doa bersama untuk mayit, sarana mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Masyarakat memahami tradisi tersebut tidak hanya sebagai warisan adat, tetapi juga sebagai implementasi ajaran hadis Nabi saw. tentang keutamaan membaca Surah Al-Ikhlas dan pentingnya mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Dalam perspektif living hadis, tradisi ini merupakan bentuk resepsi hadis yang bersifat informatif, performatif, dan transformatif, yaitu masyarakat memahami kandungan hadis, mengamalkannya melalui pembacaan Surah Al-Ikhlas dengan media batu sebagai alat penghitung bacaan, kemudian melestarikannya menjadi tradisi lokal yang memiliki nilai religius, sosial, dan budaya. Meskipun penggunaan batu sebagai media penghitung bacaan tidak disebutkan secara eksplisit dalam hadis Nabi saw., masyarakat memaknainya sebagai sarana praktis untuk menjaga ketepatan jumlah bacaan tanpa meyakini adanya kekuatan khusus pada batu tersebut, sehingga nilai utama tradisi ini tetap terletak pada bacaan, doa, dan semangat kebersamaan yang terkandung di dalamnya.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Subjects: | Ilmu Hadits |
| Divisions: | Ushuluddin, Adab, dan Dakwah > Program Studi Ilmu Hadits |
| Depositing User: | Ahmad Sapani Sapani |
| Date Deposited: | 22 Sep 2026 03:15 |
| Last Modified: | 22 Sep 2026 03:15 |
| URI: | https://repository.stain-madina.ac.id/id/eprint/1479 |
