Muniroh, Muniroh (2026) KONSEP WIZR PERSPEKTIF AL-QUR'AN. Skripsi thesis, STAIN MADINA.
MUNIROH_22100020_IAT_ COVER- BAB I.pdf
Download (1MB)
MUNIROH_22100020_IAT_ BAB II- BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB) | Request a copy
MUNIROH_22100020_IAT_ BAB V.pdf
Download (536kB)
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami konsep dosa dalam al-Qur'an, khususnya istilah Wizr yang memiliki kekhasan makna sebagai beban dosa yang melekat pada pelaku perbuatan, serta masih terbatasnya kajian yang secara khusus membahas istilah ini secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep Wizr dalam al-Qur'an dan menganalisis penafsiran ayat-ayat Wizr pada surah al-An'ām/6:164, al-Isrā'/17:15, Fāṭir/35:18, an-Najm/53:38-39, dan az-Zumar/39:7 menurut para mufasir. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan metode tafsir tematik (maudhū’ī). Sumber data primer terdiri atas al-Qur'an dan tiga kitab tafsir utama, yaitu Jāmi' al-Bayān karya al-Ṭabarī, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm karya Ibnu Kaṡīr, serta Tafsīr al-Miṣbāḥ karya Quraish Shihab. Sumber data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, skripsi, dan literatur lain yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, yaitu dengan menelusuri, mengumpulkan, dan menelaah secara mendalam data-data tertulis dari sumber primer maupun sekunder yang berkaitan dengan pembahasan wizr. Analisis data menggunakan pendekatan semantik dengan menelaah makna kata Wizr secara leksikal, kontekstual, dan teologis, serta relasinya dengan istilah dosa lain seperti ithm, żanb, dan junāḥ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Wizr dalam al-Qur'an merupakan beban dosa individual yang melekat pada pelaku perbuatan, bersifat tidak dapat dipindahkan kepada orang lain, dan tidak dapat ditebus oleh siapa pun. Surah al-An'ām/6:164 menekankan Wizr sebagai konsekuensi logis dari pengakuan tauhid, sedangkan al-Isrā'/17:15 mengaitkannya dengan penolakan terhadap petunjuk setelah datangnya rasul. Surah Fāṭir/35:18 menegaskan bahwa hubungan kekerabatan tidak dapat meringankan beban dosa, sementara an-Najm/53:38-39 menyatakan bahwa Wizr setimpal dengan usaha (sa'y) masing-masing individu. Adapun az-Zumar/39:7 menghubungkan Wizr dengan pilihan kekafiran atau kesyukuran yang konsekuensinya dipikul sendiri oleh pelakunya. Dengan demikian, Wizr dalam al-Qur'an tidak hanya berfungsi sebagai istilah dosa, tetapi juga sebagai konsep yang membangun sistem etika dan keadilan ilahi yang menolak pengalihan tanggung jawab moral kepada pihak lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prinsip lā taziru wāziratun wizra ukhrā menjadi fondasi bagi tanggung jawab moral dalam Islam, sekaligus relevan dengan penguatan pendidikan karakter dan sistem hukum yang berkeadilan di era kontemporer.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Subjects: | Ilmu Alquran dan Tafsir |
| Divisions: | Ushuluddin, Adab, dan Dakwah > Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | _ Muniroh Muniroh |
| Date Deposited: | 17 Sep 2026 04:21 |
| Last Modified: | 17 Sep 2026 04:21 |
| URI: | https://repository.stain-madina.ac.id/id/eprint/1452 |
